Ketika Lingkar Itu Semakin Kecil
Semakin ke sini, aku mulai sadar kalau circle yang dulu ramai, perlahan mengecil.
Awalnya kupikir ini bagian dari jadi dewasa — makin sibuk, makin punya prioritas sendiri. Tapi kadang terlintas juga pikiran lain: jangan-jangan dulu aku yang terlalu menganggap mereka teman, sementara bagiku hanyalah sekadar “pernah akrab”.
Dulu rasanya gampang banget bilang “temenku banyak”. Sekarang? Cuma segelintir orang yang masih benar-benar nyapa tanpa alasan, masih nanya kabar tanpa ada maunya, masih hadir walau sekadar diam bareng.
Mungkin bukan tentang kehilangan teman, tapi tentang menyadari siapa yang benar-benar *stay* tanpa pamrih. Circle-nya mengecil, tapi hatinya jadi lebih tenang. Karena ternyata, yang sedikit tapi tulus — itu cukup.
Dan kalau suatu hari nanti aku merasa sepi, mungkin bukan karena sendirian. Tapi karena akhirnya aku memilih berada di lingkar yang lebih kecil, yang lebih hangat, dan yang nggak lagi perlu pura-pura nyambung sama siapa pun.
---
Komentar
Posting Komentar